Sabtu, 16 Juni 2012
Untaian Mutiara Para Salaf tentang Tawadhu'
1. Sahabat mulia Abu Bakr as-Shiddiq رضي الله عنه berkata: "Kami mendapati kemuliaan dalam ketakwaan, kecukupan dalam keyakinan dan kehormatan dalam tawadhu'." [1]
2. Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها berkata: "Kalian telah melupakan ibadah yang paling afdhol yaitu tawadhu'." [2]
3. Fudhail bin Iyadh رØÙ…Ù‡ الله pernah ditanya tentang tawadhu', beliau menjawab: "Tawadhu' adalah engkau tunduk terhadap kebenaran, mengamalkan dan menerimanya dari orang yang mengucapkannya. Sekalipun mendengarnya dari seorang anak kecil maka ia akan menerimanya atau walaupun mendengarnya dari manusia yang paling bodoh maka ia akan tetap menerimanya." [3]
4. 'Urwah bin Wardi رØÙ…Ù‡ الله berkata: "Tawadhu' adalah salah satu tujuan kemuliaan. Setiap nikmat pasti ada yang hasad kecuali tawadhu'." [4]
5. Ibrohim bin Adham رØÙ…Ù‡ الله berkata: "Tidak pantas bagi seseorang untuk merendahkan dirinya di bawah kedudukannya. Dan janganlah dia mengangkat dirinya di atas kedudukannya".[5]
Demikian indahnya sifat tawadhu'. Ya Alloh, tunjukilah kami agar bisa berhias dengan akhlak yang mulia dan jauhkanlah kami dari sifat yang tercela. Amiin. Alloh A’lam
1. lhya' Ulumuddin 3/343, al-Ghozali
2. Az-Zuhud 2/463, Imam al-Waki'
3. Madarij as-Salikin 2/379
4. lhya Ulumuddin 3/343
5. Syu’abul Iman no.7874, al-Baihaqi. Lihat pula Nadhrotuu Na'im 4/1267-1268, Min Akhbar as-Salaf hlm.247-252, Zakaria bin Ghulam al-Bakistani
TAWADHU' DAN MENGHINAKAN DIRI
Kita sering mendengar istilah tawadhu' dan menghinakan diri. Keduanya sangat berbeda. Sifat tawadhu' muncul karena atas dasar ilmu dan pengetahuannya kepada Alloh عزّوجلّ dan karena pengagungan dan kecintaan kepadaNya serta kesadaran mengintropeksi terhadap aib pribadi.
Semua hal tersebut melahirkan sifat tawadhu' dalam dirinya. Hatinya tunduk kepada Alloh Ø³Ø¨ØØ§Ù†Ù‡ Ùˆ تعالي, patuh dan berserah diri serta mempunyai sifat kasih sayang kepada manusia. Ia melihat tidak mempunyai keutamaan atas orang lain dan ti-dak merasa benar sendiri atas orang lain. Akhlak semacam ini hanyalah pemberian Alloh عزّوجلّ kepada hamba-Nya yang dicintai dan yang dimuliakan serta dekat kepadaNya.
Adapun menghinakan diri adalah merendahkan dan menghinakan dirinya kepada orang lain untuk meraih bagian dan kelezatan syahwatnya. Seperti perendahan diri karyawan karena ingin mendapat sesuatu yang diinginkan dari atasannya, kepatuhan orang yang diajak maksiat kepada orang yang mengajaknya, atau kepatuhan orang yang ingin meraih bagian dunia kepada orang yang ia harapkan.
Semua ini adalah bentuk penghinaan diri dan bukan tawadhu'. Alloh عزّوجلّ hanya mencintai orang-orang yang tawadhu' dan membenci perendahan dan penghinaan diri.[1]
Imam Ahmad bin Abdurrahman al-Maqdisi رØÙ…Ù‡ الله mengatakan: "Sikap pertengahan adalah dengan tawadhu' tanpa merendahkan diri, dan ini adalah terpuji. Sikap tawadhu' yang terpuji adalah dengan berbuat adil, yaitu memberikan kepada setiap orang yang mempunyai kedudukan haknya." [2]
1. Ar-Ruuh hlm.273, Ibnul Qoyyim
2. Mukhtashor Minhajul Qoshidin hlm.298, Tahqiq: Ali Hasan Ali Abdul Hamid
Jumat, 15 Juni 2012
PEMILIK BLOG INI MEMINTA MAAF
PENGUMUMAN
BISMILLAH
ASSALAMU'ALAIKUM WA RAHMATULLAHI WA BARAKATUH
Karena ajal tak tahu kapan datangnya, maka:
Kepada semua kerabat, teman, dan siapa pun yang pernah saya dzholimi baik yang mengenal saya maupun tidak, sekali lagi saya minta maaf atas segala salah baik sengaja maupun tidak. Semoga Allah melapangkan dada kita untuk saling memaafkan. Amin
(Risaluddin al-Faqiir Ilallooh)
Teruslah Melangkah meski Berat..
Allah telah mempersilahkan kita untuk memilih satu dari dua jalan; jalan ketakwaan dan jalan keburukan (lihat QS. As Syams ayat 9). Orang berakal yang menginginkan kebaikan buat dunia dan akhiratnya pastilah memilih jalan takwa.
Satu di antara jalan takwa tersebut adalah jalan dakwah. Inilah jalan yang membuat banyak orang menjadi mulia. Jalan ini tidaklah mulus, bahkan ia dipenuhi banyak rintang dan aral. Tak sedikit yang mencoba menapakinya namun harus terjatuh di tengah jalan, bahkan ada yang mundur ke belakang. Inilah jalan yang karenanya Nabi Nuh hampir dibinasakan oleh kaumnya, karenanya Nabi Ibrahim hampir saja terbakar dalam api yang sangat panas, karenanya Nabi Isa hampir saja dibunuh oleh tentara Romawi yang mengepungnya, dan tentu saja, karena jalan ini begitu berat, Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berkali-kali menghadapi percobaan pembunuhan terhadap diri beliau.
Hari ini, kita yang mencoba menapaki jalan ini yang kita tahu konsekuensinya adalah akan datang silih bergantinya tantangan dan cobaan, apakah sudah siap menanggung segala resikonya? Apakah kita sudah siap dengan celaan yang akan datang silih berganti itu? Sudahkah kita jual harga diri kita di hadapan manusia(jahil) untuk kita persembahkan dalam perjuangan di jalan-Nya?
"Katakanlah, inilah jalanku, aku mengajak kepada (jalan) Allah di atas ilmu..." Sudahkah kita berani meneriakkan kalimat ini meskipun dalam hati? Ataukah kita masih merasa sungkan? Sungguh, saudaraku, kita saat ini berada dalam satu shaf perjuangan menegakkan kalimat Allah, kalimat Tauhid, "Wa Kalimatullaahi hiya al-'ulyaa" (dan kalimat Allah itulah yang tertinggi).
Kalimat agung, kalimat tauhid ini hanya bisa diemban oleh orang yang bermental baja, bukan bermental krupuk. Penegakan kalimat ini menuntut pribadi yang kuat, kokoh dan tegar, bukan pribadi cengeng yang selalu memelas kepada selain-Nya. Itu gambaran ideal, namun kita sadar, jiwa kita masih rapuh. Sedikit terjangan fitnah terkadang sudah bisa meruntuhkan idealisme kita. Untuk itulah ikhwah, kita butuh bergabung dalam suatu jamaah perjuangan. Jangan bersendirian dalam mengemban amanah dakwah ini. Sekali lagi, jangan bersendirian.
Teladan yang agung, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah mencontohkan kepada kita bahwa dengan berjamaahlah kemenangan itu akan datang. Siapa yang menyangsikan kehebatan Rasulullah? Beliau adalah pemimpin terbaik, panglima nomor wahid, disegani lawan dan dihormati kawan, paling cerdas dan berwibawa. Kesempurnaan sifat manusia, baik fisik dan mental berkumpul pada diri beliau shallahu 'alaihi wa sallam. Namun, apakah dengan itu semua beliau lantas ingin bekerja sendiri dalam mengemban amanah perjuangan ini? Tidak! Beliau butuh pendamping. Disana ada Abu Bakar ash-Shiddiq, 'Umar, 'Utsman, 'Ali serta banyak sahabat lainnya. Dari kalangan sahabiyah, beliau punya istri yang berjumlah sembilan orang. Ini semua mengajarkan kepada kita akan suatu sunnah; bergabung dalam jama'ah dakwah.
Kemuliaan akan engkau dapatkan dengan berdakwah. Terus lanjutkan perjuangan ini saudaraku. Perjuangan ini indah jika engkau ikhlas. Semoga Allah mengumpulkan kita dalam barisan mujahidin dan semoga Dia 'azza wa jalla mengumpulkan kita bersama Sang Pejuang Sejati-Rasulullah 'alaihi ash-sholatu wa as-salaam- di jannah-Nya jalla jalaalah. Amin.
(coretan kecil di tengah malam buta dari si faqiir ilallooh)
Hidup adalah Perjuangan
Hidup adalah perjuangan. Orang yang tidak mau berjuang sebaiknya tidak usah hidup alias mati saja...
Hidup adalah Perjuangan
Hidup adalah perjuangan. Orang yang tidak mau berjuang sebaiknya tidak usah hidup alias mati saja...
Langganan:
Postingan (Atom)

