Pages

Labels

Jumat, 15 Juni 2012

Hidup Hina dengan Kesyirikan

Sebagian saudara kita umat islam terlalu berlebihan memuji negeri-negeri kaum kafir. Sebutlah Jepang dengan kedisiplinannya, negara-negara Eropa dengan kebersihan dan keindahannya. Selanjutnya, mereka membandingkan kondisi negeri kafir tersebut dengan kondisi negeri kaum muslimin semisal Indonesia yang tidak disiplin, jorok, kotor, ketinggalan dan sebagainya. Hinaan mereka terhadap negeri kaum muslimin jauh lebih besar ketimbang pujian mereka terhadap negeri kaum kafirin. KETAHUILAH, KOTORAN TERKOTOR adalah KOTORAN KESYIRIKAN yang bersarang dalam hati mereka para orang-orang kafir. KOTORAN ini jauh lebih kotor dibanding kotoran yang tampak dalam pandangan. KESYIRIKAN, INILAH KEHINAAN yang PALING HINA... CAMKAN ini wahai Saudaraku... agar engkau tidak terlalu berlebihan menyanjung negeri orang-orang kafir. (catatan status FB-ku tanggal 15/6/2012)
Komentar Abu Muhammad (saya sendiri) : 
STOP SYIRIK di BUMI ALLAH. Jika ingin berlaku syirik, SILAKAN cari bumi lain yang bukan bumi-nya Allah 'azza wa jalla.. (dan pasti tidak akan engkau temukan). Maka jalan satu-satunya adalah: berhenti dari kesyirikan dan kembali kepada Tauhid.
PANCANGKAN TAUHID DI BUMI ALLAH... LAA ILAAHA ILLALLAAH!

Rabu, 13 Juni 2012

Dalam Menyambut Kematian: Orang Terbagi 3, Anda dimana?

Suatu hal yang pasti diyakini oleh semua orang, baik mukmin maupun kafir.  Dialah sang maut.  Namun dengan keyakinan yang seperti itu, ternyata tidak semua manusia mempersiapkan sesuatu yang spesial untuk menyambut hari itu.  Kebanyakan manusia lalai darinya.  Dalam salah satu kaset ceramah yang pernah saya dengarkan, disebutkan ada tiga golongan manusia dalam kaitannya dengan kematian, yakni:

  1. Mereka yang lupa atau pura-pura lupa dengan kematian.  Mereka tidak senang jika kematian disebut dihadapannya.  Mereka itulah orang-orang kafir, para pengejar dunia yang tamak akan harta.  Ketika diingatkan tentang kematian kepada mereka, hal itu hanya menambah semangat mereka untuk mengumpulkan dunia.  Mereka tidak yakin akan adanya kehidupan setelah kematian.  Maka mereka menghabiskan waktunya siang dan malam untuk menikmati dunia.  Mencari, menghitung dan akhirnya mereka mati dalam gelimang dunia; menuju murka Allah. Allahul musta'an
  2. Mereka orang lalai dengan dunia namun tidak lalai dari mengingat kematian.  Namun begitu, mereka selalu ditimpa waswas karena merasa belum punya cukup bekal untuk menghadap kepada Rabb-nya. Entah sampai kapan mereka akan terus dihantui was-was.. Tapi ini lebih baik dari golongan yang pertama tadi
  3. Inilah yang terbaik.  Mereka adalah orang-orang yang menanti kematian.  Hari kematian adalah hari bahagia buat mereka.  Mereka itulah para orang shalih yang paham betul dengan hadits nabi shallallohu 'alaihi wa sallam "Dunia itu penjaranya orang beriman dan surganya orang kafir" (HR Muslim).  Kematian mereka anggap sebagai "Keluar dari penjara".  Mereka bahagia dengan kematian disebabkan karena mereka akan segera berjumpa dengan Allah azza wa jalla.  Mereka sudah sangat siap dengan kematian itu.  Mereka sudah mengumpulkan perbekalan yang banyak meskipun mereka sendiri menganggap bekal mereka masih sangat sedikit.
Akhy, contoh dari masing-masing kategori di atas sangat banyak yang bisa kita sebutkan. Jenis pertama sudah jelas.  Jenis kedua adalah kebanyakan di antara kita, kita berharap kepada Allah 'azza wa jalla agar diberi taufik untuk bisa menjadi golongan ketiga.  Adapun jenis terakhir ini adalah cerminan para salaf.  Di zaman ini, agak sulit menemukan sosok manusia jenis ketiga.

Akhy, lihatlah Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia menangis pada detik-detik terakhir kehidupannya.  Apa yang ia tangiskan? Harta? Ia tak punya harta, ia ahlussuffah.  Saat ditanya mengapa ia menangis, ia pun berkata "Alangkah jauhnya perjalanan, alangkah sedikitnya bekal".  Subhaanallah! Teladan yang agung.  Akhy, di antara kita tidak mungkin ada yang tidak mengenal Abu Hurairah, hampir di setiap hadits-hadits yang engkau baca dan engkau dengar, namanya disebut-sebut.  Beliaulah sahabat nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling banyak meriwayatkan hadits.  Pahala amal jariyahnya terus mengalir hingga hari kiamat.  Namun begitu, masih pula ia mengatakan seperti yang ia katakan tadi. 

Bagaimana dengan kita akhy? Jangankan meriwayatkan hadits, menghapal sebuah hadits lengkap dengan sanadnya pun tidak.  Dengan bekal seperti inikah kita akan menghadap kepada-Nya?  Sungguh kitalah yang paling pantas mengucapkan perkataan "Alangkah jauhnya perjalanan, alangkah sedikitnya bekal".

Waffaqoniallohu wa iyyaakum 
(al faqiir ilallooh)

Nikah?

Kata ini begitu sering menjadi bahan perbincangan di antara kami, para ikhwan.  Asyik memang.  Tak ada ujungnya membicarakan hal ini.  Serasa kita akan hidup selamanya.

Namun akhy, saat kupikirkan betapa indahnya hal ini, bahagianya hati kala mendapatkan tulang rusuk yang selama ini menghilang, berbunga-bunganya hati berada di sisi sang pendamping hidup... semua bayangan keindahan ini pupus tatkala kuingat kondisi yang akan menimpaku nanti di alam kubur.  Tidak! Bahkan membayangkan kondisiku saat sakarat saja sudah membuat lamunanku akan keindahannya buyar begitu saja.  Ku takut dengan ancaman Allah 'azza wa jalla dalam surah al Anfal "Sekiranya kamu melihat pada saat malaikat mencabut nyawa orang kafir, mereka(para malaikat) memukul wajah dan punggungnya (orang kafir tersebut) dan dikatakan kepada orang kafir itu 'rasakanlah adzab yang membakar'."  

Adakah di antara kita yang menjamin dirinya kan selamat???  Hari ini engkau islam, boleh jadi besok sudah kafir. Akhy, hati kita Allah yang menguasainya.  Rajin-rajinlah engkau berdoa kepada-Nya.  Butiran-butiran air matamu kala memohon ampunan-Nya di gelapnya malam saat manusia sedang terlelap semoga bisa memadamkan api neraka yang mungkin akan membakarmu. "Yaa Rabb kami, kami telah mendzholimi diri kami sendiri dan sekiranya engkau tidak mengampuni kami pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi".  Ulangi doa ini akhy, dalam sholat malammu, di kesunyian malam.   Tumpahkan air matamu, getarkan arsy dengan suara jeritan hatimu mengakui dosa-dosamu selama ini.  Mintalah ampunan kepada-Nya. Dia Maha Pengampun.

Makanya akhy, makanya ukhty, jadikan pernikahan ini sebagai jembatan untuk engkau dan kita semua sampai bisa memandang Rabbunaa tabaaroka wa ta'aala.. Duhai, rindunya aku akan hari itu, namun sanggupkah ku melawan fitnah dunia yang begitu menggoda ini?

Hanya mereka yang bersabarlah yang mampu mewujudkan citanya memandang Rabb-nya subhanahu wa ta'aalaa...


Akhy, sertakan pula ana dalam doa-doa antum.  Semoga Allah mengumpulkan kita dalam surga-Nya. Amin (risal al faqiir ilalloh)

Tak Lama Lagi

Hari bahagia itu tak lama lagi sobat...

hari yang dinanti setiap orang yang rindu.. rindu bertemu dengan Rabb-nya 'azza wa jalla...

kau hanya butuh bersabar 50-70 tahun dan mungkin juga kau hanya butuh beberapa jam sejak membaca tulisan ini...

dialah AL-MAUT...

Selamat Menanti, semoga kita sudah siap saat ia datang...

Saudaraku, Saudariku, Masihkah Kau Berani Bermaksiat?

Jangan coba tuk bermaksiat, karena ajal kian dekat...

Ini kondisi-kondisi yang mungkin akan memancingmu melanggar aturan Allah:
  1. Saat engkau bersendirian menghadap ke laptop/komputer yang terhubung dengan jaringan internet, dengan sadar atau tanpa sadar, terkadang engkau menyorot gamar2 terlarang yang tampil tiba-tiba, engkau pun menikmatinya..
  2. Keadaannya serupa dengan nomor satu; engkau menekan tombol-tombol untuk membuka situs-situs yang diharamkan Allah
  3. Saat engkau memegang HP-mu, engkau SMS lawan jenismu dengan ungkapan-ungkapan yang tidak sepantasnya.  Meski hanya sekedar bertanya kabar, sudahkah ia makan, jangan lupa sholat.  Untuk tingkat lanjutan mungkin dengan kata 'sayang', 'cinta' dan untuk stadium terparah yang sudah menjerumuskan dalam kesyirikan biasanya dengan ungkapan "aku tak dapat hidup tanpamu" atau semacamnya.
  4. Saat engkau dalam WC, entah apa yang engkau perbuat dalam 'kamar setan' tersebut
Tidak lama lagi, salah satu kewajibanku sebagai mahasiswa yang kuliah di kampus umum akan segera kuselesaikan: KKN.  Aku ditempatkan di daerah yang sama sekali asing bagiku.  Gambaran-gambaran yang  disampaikan oleh orang-orang tentang daerah itu begitu membuatku khawatir. Akankah aku mampu bertahan??? Yaa Muaqollibal quluub, tsabbit qalbiy 'alaa diinika...

Ya Allah, berikanlah keteguhan kepada kami untuk tetap tsabat di jalan-MU hingga hari itu tiba, hari yang indah yang kami nantikan; bersua dengan-MU...

Senin, 11 Juni 2012

5 huruf : C I N T A

Kekeruhan hati.  Itulah yang dirasakan oleh banyak anak manusia hari ini, mungkin juga Anda, Saya dan kita semua.  Banyak hal yang bisa menjadi penyebab ketidaktenangan ini.

Sebagian anak manusia mengalami ketidaktenangan karena hawa nafsunya, sebagian lain karena masalah yang begitu banyak yang harus ia selesaikan, ada juga karena amanah yang dipikulnya.  Di sisi lain, ada yang kehilangan ketenangan karena cinta yang menggelora dalam dadanya.  Kekagumannya pada sesosok manusia yang berbeda jenis dengannya.

Cinta, memang kadang, tidak, bahkan sering membuat seseorang melepas ketenangannya.  Pikirannya selalu dibelenggu dengan bayangan orang yang ia cintai.  Segala aktivitas dan tindak tanduknya seakan ingin dipersembahkan untuk Sang Tercinta.  Sungguh tak pantas seorang muslim yang mengetahui konsekuensi tauhid mengidap penyakit cinta seperti ini.  Full Love-nya hanya boleh ia persembahkan untuk yang Maha Pengasih.  Kecintaan dan kebenciannya akan suatu hal ia dasari dengan kecintaannya kepada-NYA 'azza wa jalla.

Cinta, terkadang menyerang seorang yang bergelut dalam dunia dakwah.  Entah ia jatuh cinta dengan mad'unya karena salah mengambil langkah ataukah ia jatuh cinta dengan sesama aktivis.  Cinta adalah suatu hal yang wajar dan manusiawi.  Ia bersifat fitrah.  Hanya orang-orang yang melenceng dari fitrahnyalah yang kehilangan perasaan cintanya.  Namun begitu, islam telah memberikan rambu-rambu dalam mengolah cinta kepada lawan jenis ini.

(ibn syam: bersambung pada tulisan kedua)

Jumat, 01 Juni 2012

Memadu Cinta di Atas Kuburan

Para pembaca yang budiman, semoga Anda tidak merinding dan ketakutan saat membaca judul tulisan ini.  Isi dari tulisan ini pun tidak berisi hal-hal yang akan membuat anda takut kepada kuntilanak, genderuwo ataupun hantu-hantu lokal lainnya.  Tidak pula akan membuat Anda takut dengan hantu-hantu internasional semacam vampire, dracula, atau zombie dan sebangsanya.  Saya hanya ingin mengajak pembaca untuk mengambil ibroh dari sebuah kejadian memilukan dan memalukan yang saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyajikan kepada para pembaca tentang realitas kondisi manusia khususnya umat islam hari ini. 

Saya menyaksikan kejadian ini dengan sangat singkat, namun membuat hati saya terguncang saat menyaksikannya dan untuk beberapa waktu membuat saya merasa tidak tenang.

Begini ceritanya…

***

Kota Makassar. Malam itu, saya mengendarai motor dan membonceng ayah saya.  Kami dari arah veteran dan bergerak menuju jalan Kumala.  Sesampai di ujung jalan Veteran, kami berbelok ke arah kiri memasuki jalan Sultan Alauddin.  Cukup jauh jika mesti memutar dan melewati ujung jalan A. Tonro, maka saya pun memutuskan untuk mengambil jalan potong.

Saat melintasi jalan Alauddin, saya melihat ada lorong di sebelah kanan, maka saya pun mengarahkan motor memasuki lorong tersebut.  Saya tak tahu apa nama lorong itu, karena malam itulah pertama kali kulalui jalan itu.  Beberapa tikungan telah kami lewati namun tak juga tembus ke jalan A. Tonro.  Sudah cukup jauh rasanya.  Hingga tiba-tiba kulihat jalan di depan buntu.  Beruntung, ada seorang kakek yang sedang nongkrong di pinggir jalan yang bisa kutanyai.  “Buntu di depan Pak?”, tanyaku. “Tidak, jalan terus miki”, begitu kira-kira jawabnya.  Kulanjutkan menyusuri jalan tersebut.  Masih kuingat dengan jelas, kami belok kiri, kemudian kanan, terus… hingga kami memasuki area yang sangat gelap. Tak ada lampu disitu selain lampu motorku yang sudah mulai redup.  Kupandangi sebelah kananku, ternyata area pemakaman umum Jalan Andi Tonro.  “Alhamdulillah, sekarang kutahu sedang berada dimana, sebentar lagi akan segera tiba di jalan besar,” gumamku dalam hati.

Terus kupacu motoru.  Setelah beberapa meter, ada sebuah tembok yang membuat kami harus membelokkan motor mengikuti jalan setapak untuk bisa tembus ke Jalan Andi Tonro.  Sebentar lagi kami akan tiba.  Namun, saat kubelokkan motorku, sebuah pemandangan miris yang memilukan sekaligus memalukan kusaksikan di depan mataku, juga ayahku.

Di tengah gelapnya malam, tak ada lampu, di tengah kuburan.  Tidak, tepatnya di atas kuburan.  Ah, tak mampu rasanya kusampaikan kepada pembaca.  Tak sampai kuberpikir bahwa masih ada manusia yang berani melakukannya di tempat yang seperti  itu, di tengah pekuburan.

Para pembaca yang budiman, mungkin bagi kalian ini bukan hal mengagetkan.  Tapi bagiku ini hal yang… (tak bisa diungkapkan dengan kata-kata).  Seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang berkencan di atas sebuah kuburan!  Sang perempuan menyandarkan kepalanya di atas paha sang lelaki.  Di sekeliling mereka ada dua lelaki lain yang juga duduk di atas kuburan yang lain seakan mereka adalah “pengawal” yang bertugas menjaga berlangsungnya kemaksiatan tersebut.

Dalam kegelapan, mereka lakukan kemaksiatan, di atas kuburan pula!  Sulit untuk berprasangka baik bahwa mereka adalah pasangan sah.  Jika iya, maka cara cara kencan mereka termasuk ekstrim.

Galau.  Itulah yang kurasakan.  Terus kupacu motorku melewati mereka seakan tak percaya dengan apa yang baru kusaksikan.  Semuanya berlalu begitu cepat.  Banyak pikiran yang berkecamuk dalam kepalaku. 

Pertama, berani-beraninya mereka bermaksiat kepada Allah di tempat yang seharusnya disana kita bisa melelehkan air mata karena mengingat kematian, mengingat kegelapan kubur dan fitnahnya.  Bahkan kita dianjurkan oleh Nabi kita untuk melembutkan hati dengan berziarah kubur agar bisa mengingat kematian.  Tapi mereka, jangankan mengingat kematian, justru di tempat itu mereka berbuat pelanggaran.  Sudah sekeras itukah hati mereka?

Kedua, saat kusaksikan mereka duduk di atas kuburan, ku teringat dengan larangan Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam untuk duduk di atas kuburan.  Nabi bersabda “Seseorang dari kalian duduk diatas bara api sehingga terbakar bajunya hingga sampai ke kulitnya lebih baik baginya dari pada duduk di atas kuburan” (HR. Muslim).  Bahkan kita pun diperintahkan untuk melepaskan alas kaki ketika akan berjalan di sela-sela kuburan.

Ketiga, yang paling kusesalkan, kenapa tak kucegah mereka?  Hanya kebencian akan perbuatan mereka yang berkecamuk dalam hati.  Tak ada tindakan yang kuambil.  Inikah selemah-lemah iman? Allahu al musta’an.

Keempat, kuberharap para da’I dan da’iyah yang membaca tulisan ini agar semakin meningkatkan agresivitasnya dalam mendakwahkan agama ini.  Apa yang mereka lakukan di atas kuburan itu adalah dampak dari jahilnya mereka dengan dien yang mulia ini.  dibutuhkan dai untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar.

Kelima, kejadian seperti itu mungkin terjadi juga di tempat lain, bahkan banyak yang lebih parah kadar pelanggarannya.  Olehnya itu, dimana dan kapanpun berada, kita yang sudah tahu sedikit tentang agama ini hendaknya tidak berlemah-lemah dalam berdakwah.  Jika saja hati mereka para pelaku maksiat itu diberikan kesempatan untuk berteriak dan meronta, tentu ia akan berteriak dan meronta sejadi-jadinya sebagai tanda ketidaksetujuan akan perilaku tuannya.  Karena hati yang lurus akan selalu cinta pada kebenaran dan benci dengan kemaksiatan.

***

Di tengah banyaknya pikiran yang menghantam otakku, ternyata aku telah sampai di rumah. (Makassar, Jumat, 11 Rajab 1433/1 Juni 2012)