Pages

Labels

Jumat, 12 September 2014

Begini rasanya numpang..

oleh: Abu Muhammad

Pernahkah Anda tinggal sementara waktu di rumah orang lain, dengan kata lain numpang?  Bagaimana perasaan Anda?  Mungkin senang karena dilayani segala keperluan.  Atau ada perasaan tidak enak?  Yah, itu kembali pada diri Anda.

Numpang alias bertamu di dalam islam telah diatur etikanya dengan sejelas-jelasnya.  Dalam Kitab Arba’in an-Nawawiyah, disebutkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya ia memuliakan tamunya”.  Telah diatur juga, bagi tamu, waktu paling lama ia berhak mendapat “pelayanan” adalah tiga hari.  Lebih dari itu, terserah tuan rumah untuk menjamu atau tidak, sudah tidak ada lagi kewajiban baginya.

Kamis, 11 September 2014

Renungan Mengenai “Rezeki” (bagian 1)


Dikutip dari seorang ikhwan…



Sudah hamper sebulan saya berada di kota D dan sekitarnya.  Awalnya, saya sudah sangat yakin diterima di salah satu universitas di daerah B dengan beasiswa penuh, namun qoddarullah[1], “belum rezekimu nak”, begitulah kata ibuku saat kutelepon tentang berita “kegagalanku”[2].  Pasca pengumuman kelulusan, perasaan tak menentu.  Kucoba menyabarkan diri dan mengingat-ingat akan adanya hikmah yang besar di belakang hari –yang belum kutahu.  Sebenarnya, saya berpikir untuk langsung kembali saja ke S untuk menyelesaikan beberapa urusan di kota M kemudian kembali lagi ke kampong halaman untuk mendapatkan kemuliaan berbakti kepada orang tua, yang telah delapan tahun kutinggalkan demi menuntut “ilmu”[3].

Istiqomah dalam Menanti Kematian


Oleh: Abu Muhammad

Kematian, sebuah hal yang sering menghantui kita semua, termasuk saya.  Kematian akan menghancurkan bangunan-bangunan impian yang telah dan sedang kita usahakan.  Lalu apa?  Kita akan dimasukkan ke dalam lubang berukuran sempit, bernama kuburan.



Kematian, sangat efektif menghancurkan semua kengkuhan dan keserakahan.  Kematian, mampu menghentikan paksa semua bentuk kedurhakaan kepada-Nya yang Mahalembut kepada hamba-hambaNya.

Jumat, 23 Mei 2014

Jangan Membuat Orang Tua Kita Menangis



“Siapa yang membuat orang tuanya menangis, maka durhakalah dia.” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Abu Dawud dan An-Nasai disebutkan laki-laki itu berkata kepada Rasulullah SAW, “ Aku meninggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis”. Lalu Rasulullah SAW bersabda,” Kembalilah kepada kedua orangtuamu, buatlah mereka tertawa, seperti halnya kamu telah membuat mereka menangis.”

Membuat orangtua menangis karena kedurhakaan kita adalah perbuatan yang hina. Siapa yang tega menjatuh setetes pun air mata orangtuanya, kecuali seorang pengecut. Pada hari tuanya, orangtua kita telah menjadi lemah. Kewajiban anaknya lah untuk membahagiakan dan melindunginya.

Berbakti VS Istiqomah


Oleh : Abu Muhammad

Di sebuah negeri antah berantah..

Seorang anak manusia melanjutkan pendidikan di sebuah kota, sebut saja kota M.  Di kota tersebut ia belajar di sebuah perguruan tinggi.  Ia juga diajak masuk bergabung di sebuah lemabaga dakwah di kampusnya.  Bak gayung bersambut, dengan senang hati ia bergabung. 

"Ini yang terakhir"

oleh: Abu Muhammad

Saat tenggelam dalam kemaksiatan, kita pasti merasakan ketidaktenangan. Apalagi jika kita memang tahu bahwa perbuatan tersebut adalah kemaksiatan. Bahkan ia mungkin merupakan dosa besar di sisi Allah. Berulang-ulang, hal itu terus dilakukan. Sampai pada titik bahwa kita benar-benar menyesal melakukannya. Lalu kita bertekad untuk tidak mengulangi kemaksiatan yang sama. Kita pun berkata, "ini yang terakhir".

Waktu terus berlalu, dan godaan itu pun kembali datang. Lalu, kita pun terjatuh lagi. Memang, setan begitu gigih dan lihai dalam menggoda manusia, mereka tahu betul apa kelemahan kita. Hal yang sama terjadi lagi, kita pun menyesal lalu kembali berkata dalam hati, "ini yang terakhir". 

Dalam Penjara Kebebasan



oleh : Abu Muhammad

Dalam episode dari banyak kehidupan manusia, kebebasan adalah hal paliing didambakan.  Kebebasan berarti kelapangan.  Siapa pun  yag dalam kelapangan, maka ia punya banyak waktu untuk mengembangkan potensinya.

Akhirnya, setelah 4 tahun 7 bulan berlalu selesai juga.  Lantas?  Sudahkah dia bebas?  Ternyata ia baru saja keluar dari sebuah penjara kecil bernama “kuliah”.  Bebas?  Oh, jauh.  Di hadapannya nampak bahwa ternyata ia masih dalam bayang-bayang ketidakbebasan.