Pembaca,
Untaian nasihat Syaikh Abdul Azis bin Abdullah bin Baaz ini diangkat dari Majmu' Fatawa wa Maqalaatun Mutanawwi'ah (3/244-252). Nasihat Syaikh yang panjang ini, kami kutip sebagian.
Yang memotivasi beliau rahimahullah menyampaikan nasihat ini, karena keinginan beliau untuk memberi peringatan kepada kaum Muslimin, sebagai realisasi dari firman Allah k surat adz Dzariyat ayat 55 : Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Juga firman Allah k surat al Maidah ayat 2 : Dan saling tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
Pada pembukaan nasihat ini, Syaikh mengingatkan, bahwa hati kita bisa hidup dan sehat hanya dengan dzikrullah, melakukan persiapan untuk menjumpaiNya, istiqomah di atas perintahNya, cinta, takut kepada adzabNya dan mengharapkan kenikmatan di sisiNya. Hidupnya hati, kesehatannya, kecemerlangannya, kekuatannya, dan keteguhannya sesuai dengan kadar keimanannya kepada Allah Azza wa Jalla, kecintaan, kerinduan untuk berjumpa denganNya, serta ketaatannya kepada Allah dan RasulNya.
Rabu, 31 Desember 2014
Jumat, 26 Desember 2014
2 Jenis Hujan yang Bermanfaat
Ada dua jenis hujan yang bermanfaat, hanya Allah yang mampu menurunkannya. Kedua jenis hujan tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Pertama. Hujan berupa wahyu yang turun dan merasuk dalam hati. Allah Ta’ala berfirman :
{ وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ}
“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy Syua’ara : 192-195)
Jumat, 12 September 2014
Begini rasanya numpang..
Pernahkah Anda tinggal sementara waktu di rumah orang
lain, dengan kata lain numpang?
Bagaimana perasaan Anda? Mungkin
senang karena dilayani segala keperluan.
Atau ada perasaan tidak enak?
Yah, itu kembali pada diri Anda.
Numpang alias bertamu
di dalam islam telah diatur etikanya dengan sejelas-jelasnya. Dalam Kitab Arba’in an-Nawawiyah, disebutkan
sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa beriman kepada
Allah dan hari kiamat, hendaknya ia memuliakan tamunya”. Telah diatur juga, bagi tamu, waktu paling
lama ia berhak mendapat “pelayanan” adalah tiga hari. Lebih dari itu, terserah tuan rumah untuk
menjamu atau tidak, sudah tidak ada lagi kewajiban baginya.
Kamis, 11 September 2014
Renungan Mengenai “Rezeki” (bagian 1)

Dikutip dari seorang ikhwan…
Sudah hamper sebulan saya berada di kota D dan
sekitarnya. Awalnya, saya sudah sangat
yakin diterima di salah satu universitas di daerah B dengan beasiswa penuh,
namun qoddarullah[1],
“belum rezekimu nak”, begitulah kata ibuku saat kutelepon tentang berita
“kegagalanku”[2]. Pasca pengumuman kelulusan, perasaan tak
menentu. Kucoba menyabarkan diri dan
mengingat-ingat akan adanya hikmah yang besar di belakang hari –yang belum
kutahu. Sebenarnya, saya berpikir untuk
langsung kembali saja ke S untuk menyelesaikan beberapa urusan di kota M
kemudian kembali lagi ke kampong halaman untuk mendapatkan kemuliaan berbakti
kepada orang tua, yang telah delapan tahun kutinggalkan demi menuntut “ilmu”[3].
Istiqomah dalam Menanti Kematian

Oleh: Abu Muhammad
Kematian, sebuah hal yang sering menghantui kita semua, termasuk saya. Kematian akan menghancurkan bangunan-bangunan impian yang telah dan sedang kita usahakan. Lalu apa? Kita akan dimasukkan ke dalam lubang berukuran sempit, bernama kuburan.
Kematian, sebuah hal yang sering menghantui kita semua, termasuk saya. Kematian akan menghancurkan bangunan-bangunan impian yang telah dan sedang kita usahakan. Lalu apa? Kita akan dimasukkan ke dalam lubang berukuran sempit, bernama kuburan.
Kematian, sangat efektif
menghancurkan semua kengkuhan dan keserakahan.
Kematian, mampu menghentikan paksa semua bentuk kedurhakaan kepada-Nya
yang Mahalembut kepada hamba-hambaNya.
Jumat, 23 Mei 2014
Jangan Membuat Orang Tua Kita Menangis
“Siapa yang membuat orang tuanya menangis, maka durhakalah dia.” (HR. Bukhari).
Dalam riwayat Abu Dawud dan An-Nasai disebutkan laki-laki itu berkata kepada Rasulullah SAW, “ Aku meninggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis”. Lalu Rasulullah SAW bersabda,” Kembalilah kepada kedua orangtuamu, buatlah mereka tertawa, seperti halnya kamu telah membuat mereka menangis.”
Membuat
orangtua menangis karena kedurhakaan kita adalah perbuatan yang hina.
Siapa yang tega menjatuh setetes pun air mata orangtuanya, kecuali
seorang pengecut. Pada hari tuanya, orangtua kita telah menjadi lemah.
Kewajiban anaknya lah untuk membahagiakan dan melindunginya.
Berbakti VS Istiqomah
Oleh : Abu Muhammad
Di sebuah negeri antah berantah..
Seorang anak manusia melanjutkan pendidikan di sebuah kota, sebut saja kota
M. Di kota tersebut ia belajar di sebuah
perguruan tinggi. Ia juga diajak masuk
bergabung di sebuah lemabaga dakwah di kampusnya. Bak gayung bersambut, dengan senang hati ia
bergabung.
Langganan:
Postingan (Atom)




